Kamis, 29 April 2021, PT. Arara Abadi melakukan upaya penggusuran terhadap lahan Perladangan Masyarakat Suku Sakai di Dusun Suluk Bongkal. Masyarakat Adat Suku Sakai telah lama hidup di wilayah tersebut untuk mengolah lahan dan bercocok tanam. selama ini mereka menggantungkan hidupnya pada lahan tersebut. Namun, kini lahan tersebut akan digusur dan ditanami dengan Pohon Ekaliptus oleh PT.Arara Abadi.

Kejadian ini bermula ketika Security PT. Arara abadi yang berjumlah kurang lebih 200 orang mendatangi masyarakat adat suku sakai di Peladangan yang letaknya di desa suluk bongkal pada 27 April 2021 sekitar pukul 10.00 Wib  dengan tujuan untuk merobohkan pondok dan mencabut tanaman yang telah ditanami oleh masyarakat adat suku sakai.

Masyarakat adat suku sakai yang ada dilokasi melakukan protes dan perlawanan dengan cara menghalangi tindakan Security PT. Ararabadi agar tidak merobohkan dan mencabut tanaman mereka. Perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat adat suku sakai tersebut dilakukan karena tanah yang ditempati dan dikelola oleh masyarakat adat suku sakai merupakan tanah peninggalan nenek moyang dan juga terdapat tempat pemakaman leluhur mereka. Sejak dulu lahan tersebut sudah menjadi sumber pencarian masyarakat sakai di dusun soluk bongkal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun protes dan upaya penghalangan yang dilakukan oleh masyarakat sakai yang ada di lokasi mendapatkan kekerasan dan intimidasi dari security PT.Arara Abadi. Bahkan menurut pengakuan masyarakat yang ada dilokasi security PT. Arara Abadi membawa tameng dan juga parang untuk mengintimidasi masyarakat sakai.

Akibatnya beberapa masyarakat yang mencoba melakukan perlawanan mendapatkan luka-luka. Putih misalnya seorang nenek tua yang mendapatkan kekerasan dari Security PT. Arara abadi karena mencoba menghalangi perobohan pondok dan pencabutan tanaman, Putih diangkat oleh 4 (empat) orang security PT. Ararabadi kemudian melemparkannya ke Parit, dan beberapa masyarakat lain seperti Jummadel yang diseret, Fitriyani yang mengalami cedera (terkilir) pada tangan kirinya karena digenggam oleh security dengan kuat serta Salbiah, Mugianto, ipuk, antik, Nurlela yang juga menjadi korban pada saat itu.

Polisi datang ke lokasi setelah kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat suku sakai di soluk bongkal mereda.

Dihari yang sama, LBH Pekanbaru yang mendapatkan laporan mendatangi dan melakukan pendampingan terhadap masyarakat suku sakai di soluk bongkal. setelah mendengar keterangan dari masyarakat suku sakai dan beberapa korban yang mengalami luka-luka keesokan harinya tim LBH Pekanbaru bersama masyarakat yang menjadi korban membuat laporan ke Polsek Pinggir atas dasar penganiayaan berdasarkan STPL Nomor: 70/IV/2021/SPKT/RIAU/BKS/SEK-PGR. Tanggal 28 April 2021.

Samuel Purba, salah satu pengacara publiK LBH Pekanbaru yang melakukan pendampingan terhadap masyarakat sakai meminta kepada kepolisian untuk melakukan perlindungan dan penegakan hukum yang konkrit terhadap kasus ini untuk menjamin hak konstitusi setiap warga negara. “Juga perlunya peran pemerintah pusat dan daerah untuk menyelesaikan Konfik yang terjadi antara PT. Arara Abadi dengan masyarakat sakai yang terus berulang ini secara jelas,’’tegas Samuel.

Direktur LBH Pekanbaru, Andi Wijaya mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh PT. Arara Abadi adalah bentuk kekerasan dan intimidasi yang nyata serta sikap arogansi yang tidak menghormati hak-hak masyarakat adat yang telah lama hidup dan mengelola hutan maupun lahan secara turun temurun. “Kita mendesak untuk KLHK segera turun untuk menyelesaikan persoalan tanah ulayat Suku Sakai ini,” Kata Andi

Sampai rilis ini disampaikan, tanaman perladangan masyarakat suku sakai telah dirusak PT.Arara Abadi menggunakan escavator dan mulai ditanami tanaman ekaliptus. Masyarakat suku sakai dan Pihak perusahaan tetap berada dilokasi dengan dikawal oleh brimob bersenjata lengkap.

Narahubung :

Andi Wijaya (0813-7811-0848)

Samuel Purba (0813-7433-3827)