Berita Buku Dokumen Publikasi Siaran Pers

Suara Anak Muda: Zine Untuk Solidaritas, Simbol Perlawanan dan Kebebasan

Pekanbaru, 26 April 2026- Di tengah menyempitnya ruang sipil ditandai dengan meningkatnya pembatasan kebebasan berekpresi, berkumpul dan berpendapat, yang kita bisa refleksikan setidaknya dua tahun belakangan, Yayasan LBH Indonesia- LBH Pekanbaru bersama masyarakat sipil Pekanbaru menggelar kegiatan aksi pembuatan zine di CFD kota pekanbaru yang dilaksanakan sebagai bentuk solidaritas dan respon atas kondisi kebebasan sipil yang semakin represif akhir-akhir ini.

Represifitas rezim tergambar dari pembatasan ruang gerak rakyat, penggunaan kekuatan berlebih dan penggunaan instrumen hukum untuk membungkam mereka yang berani bersuara. Situasi unjuk rasa Agustus 2025 lalu misalnya tercatat 6.719 orang ditangkap di seluruh Indonesia yang kemudian di tersangkakan sebanyak 959 orang, angka ini bukan hanya besar tetapi juga ironi sejarah paling buruk dalam menikmati demokrasi di Indonesia.

Dari alasan tersebut, masyarakat sipil di Pekanbaru menggelar aksi kreatif dengan menggunakan zine sebagai gaya protes rakyat yang disatu padukan dengan karya seni. Stagnasi dan kemunduran kualitas demokrasi di bedah dalam karya yang disebut Zine, yang memberikan ruang pelibatan bagi anak muda untuk mengeksplorasi keresahannya terhadap berbagai isu. Zine sendiri marak digunakan sebagai alternatif perlawanan dalam bentuk majalah kecil independen yang berisikan gambar, garis, tulisan maupun bentuk yang mewakili ekspresi kritik pembuat zine.

Kegiatan ini dimulai dari pukul 07.00 WIB yang berlokasi di sepanjang jalan Sudirman dalam serangkaian kegiatan car free day (CFD) yang dipandu oleh LBH Pekanbaru dan acara ini dibuka dengan penyampaian penjelasan terkait alasan dilakukannya kegiatan tersebut. Dalam penjelasan, LBH Pekanbaru secara khusus juga mendorong beberapa isu atau permasalahan yang terjadi saat ini seperti kasus  Andrie Yunus, penggusuran Masyarakat Adat Rempang dan Tahanan Politik yang dialami juga oleh Khariq Anhar yaitu salah satu mahasiswa Universitas Riau yang dibungkam suaranya ketika ingin menyampaikan kepeduliannya terhadap isu-isu sosial dan pelanggaran HAM. 

Kegiatan ini disambut antusias oleh puluhan orang yang berada di lokasi CFD, dimulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa, para peserta dibagi secara berkelompok dalam membuat zine. Adapun hasil dari zine yang telah dibuatkan kemudian dipresentasikan oleh para peserta dan kegiatan yang harapannya dapat memperkuat solidaritas perlawanan serta berfungsi sebagai ruang aman bagi rakyat.

Beberapa peserta menyampaikan bahwa kondisi demokrasi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja, para peserta menyoroti kasus-kasus yang dihadapi oleh para tapol pada agustus lalu termasuk kasus yang dialami oleh Khariq Anhar merupakan gambaran pemerintah yang represif, padahal aksi yang terjadi pada Agustus lalu merupakan respon kemarahan masyarakat terhadap DPR RI yang secara ugal-ugalan menunjukkan sikap menyimpang dari etikanya sebagai pejabat ditambah munculnya kebijakan atas kenaikan tunjangan yang sangat fantastis disaat ekonomi sedang lesu. Kemudian Peserta juga menyoroti kasus Andrie Yunus yang dibungkam karena saat itu berusaha menyuarakan sikap bersama untuk menolak revisi UU TNI, hal selanjutnya yang menjadi konsen peserta mengenai kasus ini yakni terkait perkara yang menimpa Andri Yunus diadili di pengadilan militer yang sama-sama kita ketahui merupakan lembaga peradilan yang penuh dengan masalah bahkan sangat berpotensi meniadakan keadilan bagi Andri Yunus. 

Dalam kegiatan tersebut peserta juga mengangkat isu terkait apa yang sedang dihadapi oleh Masyarakat Rempang yang hingga hari ini masih di bawah bayang-bayang ketakutan karena masih menolak untuk di relokasi. Keprihatinan mendalam terhadap masyarakat adat Rempang diperparah oleh kondisi demokrasi indonesia yang semakin mencekam, sehingga muncul kekuatiran jika rakyat Rempang akan semakin sulit untuk menyampaikan aspirasinya dalam mempertahankan martabat leluhurnya yang turun temurun dirawat.

Tidak hanya orang dewasa, diantara keriuhan CFD, diantara peserta remaja hingga dewasa, terdapat peserta anak yang didampingi oleh orang tuanya juga mengikuti kegiatan tersebut. Adapun peserta anak tersebut menyampaikan keresahan terkait kondisi proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bermasalah dan menyampaikan pesan “stop kekerasan di sekolah”. 

Kendati demikian, konsekuensi berdemokrasi harus tegak lurus untuk menjamin kebebasan sipil dari segala macam serangan untuk melemahkan suara rakyat. Dari seluruh serangkaian kegiatan ini, kami rakyat sipil Pekanbaru mendesak Pemerintah pusat maupun daerah untuk menghentikan gelagat represif dan culasnya untuk membungkam suara rakyat, kembalikan mandat rakyat sebagai mandat politik bagi Pemerintah maupun DPR, karena dalam alam demokrasi rakyatlah tuannya. 

Hasil zine bersama dapat diunduh melalui link ini: ZINE LENGKAP

Pekanbaru, 26 April 2026

Hormat Kami,

Lembaga Bantuan Hukum Pekanbaru

About the author

lbhpekanbaru

Add Comment

Click here to post a comment