Minggu 17 Desember 2023, sejumlah aktivis pejuang HAM yang tergabung pada aksi Kamisan Pekanbaru menyelenggarakan aksi damai di kawasan Car Free Day (CFD), gerakan ini didasari akibat keresahan bersama atas penindasan serta penderitaan korban-korban pelanggaran HAM akibat penguasa yang korup.

Pada saat aksi, Aksi Kamisan Pekanbaru on Sunday dibersamai oleh penggiat HAM dari YLBHI- LBH Pekanbaru, Pondok Belantara, Bahana UNRI dan juga Mahasiswa UNRI dalam advokasi perlindungan hak asasi manusia untuk semua. Agenda acara ini diawali pembentangan spanduk, dan berbagai poster bernuansa HAM dilengkapi dengan pentas peraga sebagai gambaran penindasan rakyat yang terpinggirkan, selanjutnya melakukan orasi dengan menyampaikan pelanggaran ham yang masif terjadi dilakukan oleh penguasa dan pemilik modal dengan itikad jahat membentuk regulasi buruk, bertindak korup dan, bertindak represif untuk merampas hak asasi.

Agenda kegiatan selanjunya melakukan aksi diam sembari memegang poster dan berdiri tegap menutup mulut selama sepuluh menit sebagai bentuk pembungkaman dalam menyuarakan ketidakadilan, aksi diam ini turut diikuti oleh berbagai masyarakat yang hadir dikawasan CFD serta turut memberikan dukungan dengan menandatangani komitmen penuntasan seluruh pelanggaran ham di bumi pertiwi.

Berkat solidaritas para aktivis pejuang HAM membarakan api semangat untuk memperluas ruang kampanye Aksi Kamisan On Sunday dengan melakukan kegiatan pawai sembari tegap membentangkan spanduk dan poster bernuansa HAM dengan mengitari jalan kota pekanbaru disertai dengan gumangan Pembelaan HAM.

Menjelang berakhirnya Aksi Kamisan, para Aktivis tegak bersama melakukan dokumentasi dengan tetap membentangkan spanduk beserta poster bernuasa HAM dengan menyatakan dukungan untuk pembebasan Haris dan Fatia yang turut menjadi korban pelanggaran HAM

(Wilton: Korlap Aksi Kamisan on Sunday) turut menyampaikan  bahwa “Di penghujung tahun 2023, jadi momentum untuk kita kembali merefleksikan bagaimana pemerintah belum mampu berperan dalam rangka pemenuhan Hak Asasi masyarakat Indonesia, bukannya memerangi segala bentuk pelanggaran HAM, Pemerintah justru menjadi barisan terdepan untuk memberi duka dan luka bagi masyarakat. Mandat 25 tahun reformasi hingga saat ini tak kunjung tunai, naasnya malah diwarnai dengan banyaknya perampasan ruang-ruang hidup, demokrasi direnggut tanpa ditimbang, proyek-proyek bengis bertuankan oligarki ada dimana-mana, korporasi jahat melenggang bebas, untuk itu kita harus lawan cengkraman kekuasaan ini dengan terus menyuarakan kebenaran dan menuntut keadilan dengan suara yang lantang karena HAM milik kita: HAM untuk semua.”

(Hilarius: Orator Aksi Kamisan On Sunday)  turut memaparkan Bahwa “kekejaman penyelenggara negara merampas ruang hidup rakyat, melakukan tindakan kriminalisasi, diskriminasi dan marginalisasi, serta kekejian dan keberingasan penguasa memperkosa hak asasi korban HAM akibat PSN dan Investasi, masyrakat adat, golongan minoritas, beserta korban pelanggaran ham lainnya yang tidak dapat terhitung jumlahnya  serta tidak terhingga kekelaman dan penderitaan hidup yang telah saudara-saudara  kita alami, maka melalui aksi ini kita bersuara atas keresahan bersama menuntut keadilan untuk segera menuntaskan setiap pelanggaran HAM , hidup korban! jangan diam! dan lawan!.”

 (Eko: Aktivis Kamisan on Sunday) Bahwa “Aksi kamisan Pekanbaru akan terus ada dan berlipat ganda, selagi belum tercapainya keadilan hak asasi manusia di bumi lancang kuning. Kami juga akan terus mendorong agar negara segera menuntaskan pelanggaran pelanggaran HAM berat di Indonesia. “

Sebagaimana Konsitusi telah menjamin HAM yang merupakan kewajiban negara untuk  menghormati,  Memberikan, serta Melindungi  Hak Asasi setiap orang. Berlandaskan ini Negara bertanggung jawab untuk segera memberikan keadilan  terhadap Korban-korban pelanggaran HAM.

Narahubung : Hilarius Sihombing ( 082283388873)