Masyarakat Adat Talang Mamak merupakan suku asli Indragiri yang pertama dan berhak atas sumber daya Indragiri Hulu, namun hingga kini Masyarakat Adat Talang Mamak belum diakui keberadaannya oleh Negara baik melalui surat Keputusan Kepala Daerah ataupun Peraturan Daerah.

Tidak adanya pengakuan atas Hak Ulayat mereka menyebabkan Masyarakat Adat Talang Mamak tidak bisa bertindak ketika hutan adat atau wilayah mereka kini di ubah menjadi bentangan perkebunan sawit serta di penuhi dengan lobang-lobang hasil pertambangan.

Berdasarkan data Badan Pertanahan Kabupaten Indragiri Hulu terdapat 20 Izin Hak Guna Usaha Perkebunan seluas 66.114.967 Ha. Namun, ini adalah usaha yang tercatat dan terdaftar, belum termasuk usaha yang tidak tercatatdan terdaftar yang tentunya akan menimbulkan konflik. Sedangakan untuk izin usaha pertambangan di kabupaten Indragiri hulu, terdapat 17 Perusahaan yang terbagi menjadi 3 jenis pertambangan yaitu Batubara, Pasir dan Andesit. Total terdapat 107.122.95 Ha luas lahan yang digunakan sebagai eksplorasi dan operasi produksi.

Berangkat dari hal tersebut LBH Pekanbaru bersama AMAN INHU melakukan advokasi untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat talang mamak salah satunya mendorong pengakuan masyarakat adat talang mamak di Indragiri hulu. Bertahun-tahun mendampingi masyarakat adat talang mamak hingga saat ini meskipun belum menemukan titik terang terhadap pengakuan hukum tersebut perjuangan tersebut tetap berlangsung.

Jika masyarakat adat tidak bisa menjaga Hutan Tanahnya, maka dapat dianggap masyarakat adat tersebut tidak lagi bermarwah atau tidak lagi eksis. Namun, jika masyarakat adat tersebut kehilangan Hutan Tanahnya namun masih ada perjuangan mendapatkan kembali atas Hutan Tanah tersebut, maka masyarakat adat tersebut masih ada dan masih memiliki marwah. Hal ini yang coba diperjuangkan oleh masyarakat Adat Talang Mamak yang berupaya merebut Hutan Tanah miliki mereka walaupun hanya tinggal sejengkal.

Melalui buku ini “Masyarakat Adat Talang Mamak Di Indragiri Hulu” yang ditulis oleh LBH Pekanbaru dan AMAN INHU serta Didukung Oleh DGM Indonesia bercerita dan menggambarkan sejarah, wilayah, struktur, hukum adat, serta perjuangan pengakuan masyarakat adat talang mamak di Indragiri hulu. Pendekatan dalam buku ini di didapat dari proses pemetaan partisipatif dengan melibatkan pemuda-pemuda masayarakat adat dengan para batin yang mengetahui secara jelas batas-batas wilayahnya. Gambaran buku ini juga sebagai dokumentasi yang harus diingat oleh pemerintah pusat maupun daerah untuk memastikan bahwa pengakuan sudah pantas untuk di dapatkan oleh Masyarakat Adat Talang Mamak Di Indragiri Hulu.

Pekanbaru, 23 April 2021

Yayasan LBH Indonesia

LBH Pekanbaru

Andi Wijaya Direktur